Pahami (Sosial-Budaya) Wanita dan Anda Akan Menjadi Pemenang

Ulasan Lengkap Marketing New Wave (23 dari 100)

If Men are from Mars and Women are from Venus, and you can speak Venusian, the world can be yours

ANDA tahu film What Women Want? Ini salah satu film favorit saya. Ceritanya berkisar pada Nick Marshall, account executive sebuah biro iklan. Nick yang diperankan oleh Mel Gibson ini orangnya ganteng, gagah, punya karir yang bagus, dan duda. Pendeknya, tipe pria yang menjadi idaman para wanita.

Suatu hari, ketika sedang di kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, Nick terpeleset dan jatuh ke bathtub yang berisi air. Tak pelak, ia pun kesetrum dan jatuh pingsan. Ketika siuman, entah bagaimana, Nick bisa mendengar apa-apa yang ada di pikiran wanita.
Semua wanita yang ditemuinya bisa didengar pikirannya. Kadang malah ada dua suara sekaligus yang didengarnya dari satu wanita yang sama; satu ucapan lisan yang keluar dari mulut si wanita, satu lagi "ucapan" dari pikiran si wanita.
Nick pun bingung dan mengira otaknya terganggu. Ketika Nick menemui seorang terapis, terapis ini malah ngomong supaya Nick tidak perlu risau. Terapis ini bilang kalau inilah anugerah terbaik yang pernah diberikan Tuhan kepada Nick. "If Men are from Mars and Women are from Venus, and you can speak Venusian, the world can be yours," begitu kata terapis tadi.
Sadar akan hal ini, Nick lantas memanfaatkan "bakat" barunya ini untuk kepentingannya sendiri, termasuk untuk memenangkan pitching iklan yang diikutinya. Ia pun memanfaatkannya untuk kepentingan menjalin relasi dengan seorang wanita teman kerjanya dan juga untuk memperbaiki hubungannya dengan anaknya.
Nah, inilah salah satu contoh customer insight. Film ini bisa menjadi inspirasi bagi semua marketers. Marketers harus bisa menjadi seperti Nick Marshall tadi, yang bisa benar-benar memahami orang lain (baca: pelanggan) secara luar-dalam.
Bukan hanya yang diucapkan secara lisan, namun juga yang tidak diungkapkan. Karena apa yang ada di pikiran seseorang tidak jarang sangat berbeda dengan apa yang diucapkan olehnya.
Customer insight seperti ini bukan hanya ada di film. Di Indonesia sendiri malah sudah pernah ada contoh nyata "customer insight" yang lebih dramatis. Pada tahun 1974, ada seorang wanita antropolog dan jurnalis asal Amerika bernama Wyn Sargent. Ia pergi ke Lembah Baliem di Papua untuk meneliti kehidupan penduduk asli di sana, yaitu suku Dani.
Sargent yang saat itu berusia sekitar 46 tahun ini bukan sekadar ingin menjadi peneliti "dari luar" saja. Ia benar-benar ingin "immerse", ingin "masuk" dan menjadi bagian dari suku tersebut. Sargent pun tinggal bersama-sama suku Dani tersebut, dan bahkan sempat menikah dengan kepala sukunya yang bernama Obaharok!
Inilah yang saya kira merupakan upaya "customer insight" yang paling fenomenal sampai saat ini. Kisah ini sempat heboh saat itu. Sargent kemudian memang kembali ke Amerika. Ia pun menuliskannya dalam buku berjudul People of the Valley.
Sebelum pergi ke Papua tadi, Sargent juga sempat meneliti suku Dayak di Kalimantan dan menuliskan pengalamannya dalam buku berjudul My Life with the Headhunters. Bisa kita lihat bagaimana gigihnya Sargent ini dalam upayanya memahami sosial-budaya masyarakat setempat.
Nah, dalam konteks marketing, apa yang dilakukan Sargent ini menunjukkan bahwa aspek sosial-budaya merupakan aspek yang paling penting, dan juga paling sulit, dalam upaya memahami pelanggan.
Masyarakat yang tinggal di satu tempat tertentu menganut keyakinan (belief) dan nilai-nilai (values) yang berbeda dengan masyarakat di tempat lain. Keyakinan dan nilai-nilai ini sudah terserap secara tidak sadar dan berlangsung turun-temurun dari generasi ke generasi. Karena itu, terbentuklah karakter masing-masing masyarakat sesuai dengan keyakinan dan nilai-nilai yang dianutnya.
Di Indonesia, sebagai marketers kita harus benar-benar mencermati aspek sosial-budaya ini karena Indonesia memiliki banyak etnis, bahasa, agama, dan adat yang berbeda-beda. Perubahan gaya hidup dan perilaku harus benar-benar diamati karena sifat perubahan sosial-budaya ini bersifat inkremental dan "halus", sehingga kadang tidak terdeteksi.
Beda misalnya dengan perubahan dalam aspek politik-legal yang sifatnya seketika atau perubahan teknologi yang bisa terlihat jelas.
Apalagi, seperti juga pernah saya bahas, Indonesia sudah sangat berbeda dengan zaman Orde Baru dulu. Otonomi daerah yang ada membuat sosial-budaya Indonesia yang dulunya cenderung homogen (alias jakarta-sentris dan jawa-sentris) sekarang menjadi sangat beragam.
Karena itu, perusahaan nasional harus mendalami masalah sosial-budaya pelanggan di tiap-tiap daerah. Di era New Wave Marketing ini, kantor pusat di Jakarta tidak bisa lagi menyusun kebijakan yang sama untuk semua kantor cabang-kantor cabang di daerah-daerah, karena memang pelanggan di tiap-tiap daerah tersebut berbeda-beda.(kcm/firmansyah)

* Hermawan Kartajaya, pakar marketing

Seguir leyendo...

Indosat Luncurkan Voucher Indonesia Hijau

Makassar,Tribun--Sebagai dukungan mensosialisasikan cinta lingkungan, Indosat meluncurkan voucher isi ulang edisi khusus Indonesia Hijau dengan denominasi Rp. 10.000.

"Setiap isi ulang menggunakan vouocher ini, Rp.10,- akan disumbangkan bagi kegiatan-kegiatan kepedulian lingkungan," demikian ungkapHead of Regional Sulampapua PT Indosat Fadjar Oetomo di sela-sela kegiatan Indonesia Hijau di SMK Negeri 4 Makassar, Kamis (20/11).

Saat ini voucher ini sudah dapat dibeli di outlet-outlet dan dengan demikian masyarakat dapat berpartisipasi aktif mendukung program lingkungan bersama Indosat.

"Kami yakin dengan semua inisiatif kami dalam mewujudkan program-program Indosat Cinta Indonesia, termasuk program INDONESIA HIJAU, akan memacu kami untuk menjadi perusahaan yang selalu bertumbuh, menerapkan tata kelola perusahaan yang baik dan selalu memberi manfaat dan peduli pada masyarakat serta lingkungan sekitar", ujar Fajar. (fik)

Seguir leyendo...

Road Map Tribun Bisnis 2009

OPPPo ikiiiiii...Allahu Akbar...

TANTANGAN
1. Keterbatasan personil (walau dapat diatasi)
2. Koordinasi yang belum padu dengan bagian iklan, (mekanisme order yang perlu dibenahi lagi)
3. Optimalisasi peran rekan wartawan daerah (liputan ekonomi dan daya endus untuk showbiz)
4. Foto yang sangat sulit dikoordinasi: Disiplin fotografer amburadul, lebih banya kdiajak berkelahi

RENCANA KERJA

1. Mulai peliputan ordinary people
a. VIP digarap lagi bagi kalangan enerpreneur, profesional, key person dari komunitas pengusaha
b. Rubrikasi dirutinkan seperti untuk suatu ketika, selebri-TI (sinergi dengan desk kota/hiburan), wisdom business (dari tokoh VIP)

2. Peluang Usaha
a. Lokal (succses story)
b. Nasional (franchise, kebijakan)

3. Tips dan Trik
a. keuangan keluarga (perencanaan keuangan)
b. leadership dll

4. Komunitas
a. aktivitas dan event asosiasi dan organisasi stackholder ekonomi
b. Jaringan distribusi dan pemasaran brand/bisnis

5. Show Biz
a. Peluang Usaha (Hipmi, franchiser dll)
b. Aktivitas dan kebijakan goverment (pemda, Tribun Foresty dgn Dinas kehutanan,
c. Sinergi dengan LSM (lingkungan dengan JuRNAL, Coremap, Aman, Lapar, Elsim dll)
d. CSR BUMN dan Swasta (PLN, Telkom
e. Tribun Wisata (dengan Asita dan PHRI
f. Sentra perbelanjaan (mal, Lavita, brand furniture, dan franchise, dll)

6. Marketing New Wave (prosummer)
a. Partisipasi (SMS untuk isu-isu menarik dan penting)
b. Dll

Tribun Boleh Keluarkan Budget Rp 750 juta per bulan Tapi Desk Ekonomi Bertekad Menghasilkan Rp 1 miliar /bulan

Oppo ki...

Seguir leyendo...

Fadel Gaet Dana Bermodal Kepercayaan

Makassar, 21/6 (ANTARA) - Pengusaha Fadel Muhammad yang kini menjadi pemimpin di Provinsi Gorontalo mengaku selalu mengandalkan dan menjaga kepercayaan para donatur.
"Itulah (kepercayaan) yang saya pakai dalam berbisnis, sebagai modal besar, dan itu pula yang saya terapkan saat menjadi gubernur," kata putra yang berasal dari daerah yang memiliki makanan khas "binte biluhuta" itu.

Selain modal kepercayaan itu yang dijaga, kata Fadel di Gorontalo, beberapa hari lalu, juga harus mampu menjadi contoh bagi yang lain, meskipun ide atau gagasan yang dipakai itu tidak populis di kalangan masyarakat umum.
Sebagai gambaran, ketika ia mencanangkan Provinsi Gorontalo sebagai "provinsi jagung", banyak yang beranggapan itu adalah suatu isapan jempol belaka.
Namun bertekad dan kerja kerasnya, serta mampu memperlihatkan bagaimana keberpihakannya kepada petani palawija itu, akhirnya impian itu tercapai juga.
"Yang terpenting dalam hal ini memupuk rasa percaya petani kepada pemerintah, bahwa pada saat produksi melimpah, harga akan tetap stabil, karena pemerintahnya dapat memproteksi produksi petani," ujarnya.
Berangkat dari modal kepercayaan ini pula, Pemerintah Gorontalo mendapatkan alokasi bantuan pembangunan sarana penerangan melalui PT PLN untuk periode 2008-2010, dengan dana APBN yang langsung diberikan sebanyak Rp1,2 triliun tanpa proses pengalokasian dana secara bertahap seperti provinsi lainnya di Indonesia.

Seguir leyendo...

Paliudju Jadi Ketua Dewan Pembina BKPRS

Makassar, 21/6 (ANTARA) - Para gubernur se Sulawesi melalui pertemuan yang cukup alot di hotel Clarion Makassar, Jumat malam, menyepakati untuk menetapkan H Banjela Paliudju, Gubernur Sulawesi Tengah, sebagai Ketua Dewan Pembina Badan Kerjasama Pembangunan Regional Sulawesi (DP BKPRS) periode 2008-2010.
Paliudju seyogianya langsung dikukuhkan sebagai Ketua Dewan pembina BKPRS dalam pertemuan tersebut, karena sesuai tradisi yang telah terjalin selama sepuluh tahun BKPRS terbentuk, daerah yang menjadi tuan rumah Musyawarah Regional Pembangunan (Musrenbang), gubernurnya akan menjadi Ketua DP, sementara Musrenbang Sulawesi terakhir dilaksanakan di Palu, Sulawesi Tengah bulan Januari 2008.

Namun kemudian, Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad dalam sambutannya pada petemuan yang dihadiri lima gubernur dan para Ketua DPRD dan Ketua Bappeda se Sulawesi itu menyarankan agar para gubernur memusyawarahkan kembali siapa yang akan menjadi Ketua DP periode dua tahun mendatang.
Pertemuan kemudian diskors untuk memberi kesempatan kepada lima gubernur yakni Fadel Muhammad (Gorontalo), Syahrul Yasin Limpo (Sulsel), H Nur Alam (Sultra), Anwar Adnan Saleh (Sulbar) dan H Banjela Paiudju (Sulteng) untuk berembuk.
Setelah bermusyawarah sekitar 45 menit, HB Paliudju kemudian disepakati menjadi Ketua DP BKPRS dengan catatan setiap tahun akan dilakukan evaluasi kinerja Ketua DP dan direncanakan untuk membentuk Wakil Ketua DP BKRS.
Pertemuan juga menyepakati bahwa setiap daerah akan memberikan kontribusi dana untuk operasional sekretariat BKPRS sebesar Rp250 juta/tahun dari setiap daerah.
Fadel Muhammad yang ditunjuk untuk menyampaikan hasil musyawarah itu juga mengemukakan bahwa para gubernur menyepakati untuk menjaga stabilitas keamanan dan politik di Sulawesi, menyusun Visi Sulawesi 2010, menyukseskan Visit Indonesia Year 2008, membangun sektor transportasi secara sinergi dan mengkoordinasikan investasi sektor sumberdaya alam secara simultan.
Wakil Ketua MPR RI yang juga Ketua Dewan Bisnis BKPRS, HM Aksa Mahmud ketika menutup pertemuan itu meminta agar para gubernur di Sulawesi membiasakan diri untuk 'berbaris' menemui para pejabat tinggi di Jakarta untuk memperjuangkan pendanaan proyek-proyek pembangunan yang bisa dikerjasamakan di kawasan ini seperti sektor pertanian, perikanan, perkebunan, transportasi, komunikasi dan energi.
"Kalau enam gubernur ini 'berbaris' menemui menteri pertanian atau menteri PU untuk memperjuangkan pembangunan pertanian, jalan dan jembatan serta irigasi, saya kira mereka (menteri-menteri-red) akan resah kalau tidak mengabulkannya," ujar Aksa.
Gubernur Sulawesi Barat H Anwar Adnan Saleh berharap agar Ketua DP BKPRS yang baru segera mewujudkan pengadaan Sekretariat BKPRS yang permanen di Kota Makassar agar kepala sekretariat tidak lagi menjadi 'kontraktor' yang setiap tahun berpindah-pindah mengontrak bangunan untuk tempat beraktivitas.
"Sudah hampir 10 tahun BKPRS terbentuk, masak belum sanggup mengadakan kantor sekretariat yang permanen," ujarnya.
Sedangkan HB Paliudju mengatakan akan berupaya merealisasikan harapan-harapan Gubernur se Sulawesi dalam dua tahun kepemimpinannya, terutama kerjasama pembangunan regional untuk menjadikan Sulawesi sebagai daerah yang terkemuka dalam bidang pangan dan pertanian serta memiliki akses transportasi dan komunikasi yang memadai.

Seguir leyendo...

Tribun Bisnis

Foto saya
Adalah blog berita ekonomi-bisnis pertama di Indonesia timur yang dikelola oleh Firmansyah (Lafiri) seorang Jurnalis Ekonomi dan Bisnis di Sebuah Media Kelompok Kompas Gramedia (KKG) di Makassar, Tribun Timur yang Gelisah untuk Pertumbuhan Ekobis di KTI dan Baru Gatel untuk Ngeblog. Email: firitribun@yahoo.com. Blog ini menghimpun tulisan dan liputan ekonomi-bisnis di Tribun Timur dan di media Kelompok Kompas Gramedia di Sulawesi, Kalimantan, Papua, Nusa Tenggara